Catatan sintia
Selasa, 13 Desember 2011
mimpi
Baru saja aku mendengar curhatan dari salah seorang temanku, dia adalah seorang perempuan yang sempat dekat dengan sahabatku. Keakraban aku dengannya diawali dari jalinan hubungan pertemanan antara sahabatku itu dengan perempuan tersebut, perempuan ini sudah aku anggap sebagai saudara perempuan-, begitupun sebaliknya.Namun…, dibalik hubungan pertemanan antara sahabatku dengan perempuan itu ada suatu hal yang baru mereka sadari, dimana diantara mereka sudah terjalin rasa saling menyayangi dan juga saling peduli satu sama lain. Hal ini cukup salah bagi sahabatku dikarenakan dia sudah memiliki seorang kekasih.
Selang waktu berjalan, kedekatan mereka pun akhirnya harus diakhiri karena sahabatku mulai merasa bahwa hal ini tidak bisa dia lanjutkan karena hanya akan menyakiti perasaan pria itu dan tentunya dirinya sendiri. Kata pisah pun menjadikan jarak antara mereka, akan tetapi aku yang sering kali menjadi jembatan bagi mereka berdua ketika ada keinginan untuk mengetahui keadaan masing-masing.
Hingga suatu pagi menjelang…
Sang perempuan yang sudah cukup lama tidak menanyakan keadaan sahabatku itu, mendadak menelponku dan banyak bertanya tentang sahabatku…
Selang beberapa pertanyaan, barulah dia jelaskan alasan tiba-tiba dia bertanya seperti ini. Ternyata sudah kali ketiga sahabatku ini hadir dalam mimpinya, kali pertama pria ini memimpikan bahwa dia melihat sahabatku terbaring lemah karena sakit, kali kedua dia melihat sahabatku sedang menangis tersedu dan kali ketiga dia melihat sahabatku sedang bahagia karena sesuatu hal…
Sontak aku terkejut mendengar penjelasan mimpi-mimpinya itu, karena pada kenyataannya hal itu juga yg belakangan ini terjadi pada sahabatku..
Dari kejadian itu, aku teringat oleh beberapa definisi mimpi yang pernah aku baca, dimana ada pernyataan bahwa mimpi dianggap sebagai proyeksi bagian dari diri yang telah diabaikan, ditolak, atau ditekan.. ungkapan lainnya ialah bahwa mimpi adalah cara seseorang dapat berkomunikasi untuk sesuatu yang tidak dikatakan langsung.
Hmm.. entah hanya kebetulan atau memang ini adalah reaksi alam bawah sadar kita yang mampu menuangkan hal-hal yang tidak jarang kita abaikan saat kita terjaga atau hal-hal yang pada dasarnya memang selalu menjadi bagian dari pikiran kita… Namun hal itu juga yang belakangan ini aku alami, dimana sudah kali keempat aku memimpikan seseorang yang sama dan sampai detik ini aku masih bertanya-tanya akan kah mimpiku itu memiliki kesamaan makna seperti pria itu ataukah ada makna lainnya???
Yah.. Bagaimana pun pada kenyataannya mimpi memang menjadi suatu hal yang sampai detik ini tidak mampu kita kontrol dan sering kali membuat kita bertanya-tanya ketika kita terbangun dari suatu bunga tidur yang menghiasi lelap tidur kita..
Jadi apa pun yang hadir dalam mimpi kita, satu hal yang harus kita ingat bahwa.. Kita berada di alam tindakan, bukan di alam angan-angan!
..:: nice dream everyone ::..
Barusan dapet pesen singkat dari temen mengenai aturan sederhana tentang kehidupan. Sekilas mudah kelihatannya, tapi subhanallah ternyata ya tidak mudah melakukannya dalam kehidpan sehari-hari. Begini aturannya:
1. Bebaskan dirimu dari kebencian-kebencian
2. Bebaskan pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah dengan sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah
note: sorry kalau pernah ada yang mosting
1. Bebaskan dirimu dari kebencian-kebencian
2. Bebaskan pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah dengan sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah
note: sorry kalau pernah ada yang mosting
KISAH asmaraku dengan kekasih sudah berjalan selama hampir lima tahun. Selama ini, hubungan kami terasa begitu sempurna, kecuali satu hal: aku dan dia berbeda keyakinan.
Di saat-saat awal, aku berusaha untuk tidak terlalu merisaukan hal tersebut. Aku selalu berpikir suatu hari nanti kami pasti akan menemukan jalan keluar, sehingga aku memutuskan untuk tetap bertahan. Akan tetapi, akhir-akhir ini kegelisahan semakin sering menghampiri. Berbagai tekanan pun mulai berdatangan dari segala penjuru.
Di satu sisi, orangtua mulai rewel bertanya kapan aku akan menikah. Maklum, aku anak perempuan pertama dan satu-satunya di dalam keluarga. Mereka khawatir anaknya akan menjadi perawan tua, apalagi usiaku memang sudah tidak bisa dikatakan muda.
Di sisi lain, aku dan kekasih belum juga menemukan titik cerah mengenai hubungan kami. Setiap kali aku dan dia membahas masalah keyakinan, pembicaraan kami selalu berakhir dengan pertengkaran. Keduanya sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah.
Aku mengerti, masalah keyakinan merupakan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi dan sakral, karena berhubungan langsung dengan Sang Pencipta. Suatu kali, aku sempat berpikir untuk mengalah dan mengikuti keyakinannya, namun pikiran itu langsung kutepis jauh-jauh.
Aku tahu bahwa diriku tidak akan mampu melakukannya. Aku tidak sanggup melukai perasaan orangtua serta keluarga besarku. Apalagi, ayah termasuk salah seorang pemuka agama di lingkungan kami. Apa yang akan dikatakan orang-orang apabila aku benar-benar menjalankan niatku?
Kadang-kadang aku merasa lebih baik jika kami menyudahi saja hubungan ini, tapi aku terlalu takut membayangkan masa depan tanpa dirinya. Saat ini, aku dan kekasih memutuskan untuk menjaga jarak sementara waktu, sebelum membuat keputusan final soal kelangsungan hubungan kami.
Di saat-saat awal, aku berusaha untuk tidak terlalu merisaukan hal tersebut. Aku selalu berpikir suatu hari nanti kami pasti akan menemukan jalan keluar, sehingga aku memutuskan untuk tetap bertahan. Akan tetapi, akhir-akhir ini kegelisahan semakin sering menghampiri. Berbagai tekanan pun mulai berdatangan dari segala penjuru.
Di satu sisi, orangtua mulai rewel bertanya kapan aku akan menikah. Maklum, aku anak perempuan pertama dan satu-satunya di dalam keluarga. Mereka khawatir anaknya akan menjadi perawan tua, apalagi usiaku memang sudah tidak bisa dikatakan muda.
Di sisi lain, aku dan kekasih belum juga menemukan titik cerah mengenai hubungan kami. Setiap kali aku dan dia membahas masalah keyakinan, pembicaraan kami selalu berakhir dengan pertengkaran. Keduanya sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah.
Aku mengerti, masalah keyakinan merupakan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi dan sakral, karena berhubungan langsung dengan Sang Pencipta. Suatu kali, aku sempat berpikir untuk mengalah dan mengikuti keyakinannya, namun pikiran itu langsung kutepis jauh-jauh.
Aku tahu bahwa diriku tidak akan mampu melakukannya. Aku tidak sanggup melukai perasaan orangtua serta keluarga besarku. Apalagi, ayah termasuk salah seorang pemuka agama di lingkungan kami. Apa yang akan dikatakan orang-orang apabila aku benar-benar menjalankan niatku?
Kadang-kadang aku merasa lebih baik jika kami menyudahi saja hubungan ini, tapi aku terlalu takut membayangkan masa depan tanpa dirinya. Saat ini, aku dan kekasih memutuskan untuk menjaga jarak sementara waktu, sebelum membuat keputusan final soal kelangsungan hubungan kami.
Langganan:
Postingan (Atom)
